Perkuat Kapasitas Penyelenggara TPS, Bawaslu Kota Pekanbaru Tegaskan Komitmen Tingkatkan Kualitas Pemilu
|
Pekanbaru – Bawaslu Kota Pekanbaru menggelar diskusi konsolidasi demokrasi bersama unsur masyarakat dan tokoh lingkungan, dalam rangka memperkuat kualitas penyelenggaraan Pemilu di tingkat Tempat Pemungutan Suara (TPS). Diskusi tersebut menghimpun berbagai masukan konstruktif terkait kondisi penyelenggara Pemilu di tingkat TPS. Diskusi konsolidasi demokrasi ini dilaksanakan di RM Yuli, Jl. Cikditiro kelurahan tanah datar kecamatan pekanbaru kota, selasa (20/01/2026).
Kegiatan diskusi konsolidasi demokrasi ini dihadiri oleh Ketua Bawaslu Kota Pekanbaru, Ferdy, bersama Anggota Bawaslu Kota Pekanbaru, Taufik Hidayat. Turut hadir Yandi selaku Ketua RT 4 serta Zulfan selaku Ketua RW 1 Kelurahan Tanah Datar yang menyampaikan sejumlah masukan dan pandangan dalam diskusi tersebut.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun oleh Staf Humas Bawaslu Kota Pekanbaru, dalam diskusi itu, mereka menyoroti beberapa persoalan yang ditemui di lapangan, khususnya terkait kesiapan dan kapasitas penyelenggara TPS, serta pentingnya penguatan pembinaan dan pendampingan teknis guna meminimalkan kendala pada saat pelaksanaan pemungutan dan penghitungan suara.
Yandi, Ketua RT 4 Kelurahan Tanah Datar, menyampaikan bahwa berdasarkan pengamatannya di lapangan, sebagian besar KPPS dan Pengawas TPS masih didominasi oleh penyelenggara pemula dengan pengalaman yang terbatas.
“Kalau kami lihat waktu di TPS kemarin itu, memang banyak petugas yang masih baru-baru. Pengalamannya belum banyak, jadi pas hari H tu ada yang masih tampak bingung, masih belajar sambil jalan. Bukan tak mau kerja bagus, cuma memang karena masih kurang pengalaman. Ditambah lagi bimbingan teknis yang mereka dapat rasanya belum terlalu mendalam, jadi waktu ketemu situasi yang agak rumit di lapangan, ya masih perlu banyak arahan dan pendampingan lagi.” Ucap yandi
Senada dengan itu, Ketua RW 1 Kelurahan Tanah Datar, Zulfan, menambahkan bahwa penerapan batas usia maksimal turut menyebabkan sejumlah penyelenggara yang berpengalaman pada pemilu sebelumnya tidak dapat kembali bertugas.
“Kalau soal batas umur itu, memang terasa juga dampaknya, banyak petugas yang dulu sudah berpengalaman, sudah paham betul alurnya, sekarang tak bisa ikut lagi. Jadi yang bertugas kebanyakan orang baru, wajar lah kalau kualitas kerja di TPS kemarin terasa beda, terutama waktu pemungutan dan penghitungan suara. Bukan berarti ada unsur sengaja atau macam-macam. Lebih ke soal kemampuan yang memang masih terbatas dan kurangnya pendampingan teknis saja. Kalau dibimbing lebih intens dan sering latihan, insyaallah ke depan bisa lebih baik lagi” ucap zulfan.
Menanggapi hal tersebut, Ferdy menyampaikan dengan santai bahwa ke depan memang perlu banyak pembenahan.
“Kita di Bawaslu tak mau cuma datang pas tahapan saja. Nanti bimtek untuk KPPS dan Pengawas TPS kita dorong lebih rapi dan lebih sesuai dengan kondisi di lapangan. Jadi bukan teori saja, tapi lebih banyak praktik dan simulasi biar mereka betul-betul siap,” ujarnya.
Senada dengan itu, Taufik Hidayat menambahkan, pendampingan juga akan diperkuat, terutama di momen-momen penting seperti pemungutan dan penghitungan suara.
“Kita juga ingin libatkan anak-anak muda dan tokoh masyarakat. Pengawasan itu bukan cuma tugas Bawaslu saja, tapi kerja bersama. Kalau sama-sama peduli, insyaallah pelaksanaan pemilu di Pekanbaru bisa lebih baik lagi,” tutupnya.
Bawaslu Kota Pekanbaru berkomitmen untuk terus membuka ruang dialog serta memperkuat pengawasan partisipatif sebagai fondasi demokrasi yang transparan, akuntabel, dan berkualitas.
Penulis/editor: Humas Bawaslu Kota Pekanbaru